Lockdown Dalam Perspektif Al-Qur’an “Kisah Ashabul Kahfi”

By | April 10, 2020

Hari jumat merupakan hari yang paling mulia diantara hari-hari yang lainnya, dan salah satu sunnah yang ada pada hari tersebut adalah membaca surat Al-Kahfi (surat yang ke-18). Tentu kita melaksanakan kesunnahan tersebut atas dasar serta dengan harapan mendapatkan apa yang dijanjikan Rasulullah melalui beberapa hadistnya. Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari sebuah kisah yang terdapat di dalam surat Al-Kahfi, yaitu kisah Ashhabul Kahfi. Tentang bagaimana kita seharusnya menyikapi apa yang sedang terjadi pada saat ini.

Sebelumnya, mari kita lihat apa yang menyebabkan Ashhabul Kahfi masuk ke dalam gua atau melockdownkan diri mereka. Penjelasan ini dapat kita lihat pada ayat 14 dan 15, bahwa mereka hendak mempertahankan keimanan mereka dari masyarakat dan penguasa yang dzalim. Lalu bagaimana dengan kita yang hidup pada zaman penuh fitnah ini. Salah satunya yang dapat kita lakukan adalah dengan banyak berdiam diri di rumah dan meminimalisir keluar rumah tanpa berkepentingan yang sangat.[2] Hal ini sangatlah relevan jika kita tarik pada masalah yang terjadi saat ini. Seperti yang kita ketahui bahwa bapak Presiden telah menyerukan kepada rakyatnya untuk banyak beraktifitas dirumah saja. Guna meminimalisir terjangkitnya atau bahkan bisa jadi kita menyebarkan penyakit kepada sesama, yaitu dengan cara mengisolasi diri secara mandiri dirumah masing-masing.

Tidak hanya itu, pada ayat ke-10 dikisahkan bahwa mereka tidak melupakan Tuhannya seraya berdoa memohon dicurahkan rahmat serta diberikan petunjuk atas permasalahan yang mereka hadapi. Menggambarkan kepada kita bahwa ikhtiyar haruslah dibarengi dengan doa, begitu pula doa haruslah dibarengi dengan ikhtiyar. Karena “doa tanpa usaha itu omong kosong, usaha tanpa doa itu sombong”. Hal inilah yang dilakukan Ashhabul Kahfi guna mempertahankan keimanan mereka. 

Selanjutnya mari kita lihat apa saja yang menyebabkan Ashabul Kahfi tetap terjaga dalam tidurnya kurang lebih 300 tahun lamanya. Yang semoga dapat kita praktekkan di kehidupan sehari-hari kita, khususnya dalam masa sekarang ini.

Yang pertama dapat kita jumpai pada ayat ke-11: “Allah menutup titik pendengaran mereka”. Apa artinya? Hendaklah kita dalam kondisi saat ini mampu dengan baik menyikapi berbagai informasi yang menyebar luas di media sosial, sehingga kita tidak terlalu panik dan tidak pula terlalu abai dalam menyikapi wabah ini. Seperti yang di katakan Ibnu Sina “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan.”

Yang kedua pada ayat 17: “begitu strategisnya bentuk dan letak gua yang mereka tempati. Tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu lembab sehingga dapat menjaga tubuh dari kerusakan”. Artinya kita juga perlu untuk memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar kita. Kualitas lingkungan permukiman sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Dengan membersihkan dan memperhatikan apa yang kita gunakan di keseharian kita. Sehingga kita mampu untuk terus melanjutkan kehidupan dengan baik.

Yang ketiga pada ayat 18: “tetap bergerak”, dari ayat ini kita mengetahui bahwa mereka ditidurkan bukan layaknya orang yang sudah mati. Akan tetapi dengan kuasa Allah mereka di gerakkan kanan dan kiri. Menggunakan term fi’il mudhari’ (kata kerja masa sekarang dan yang akan datang) menandakan bahwa pergerakan tersebut terjadi secara terus menerus, sehingga peredaran darah mereka tetap berjalan dengan baik dan tidak rusak di makan tanah. Lantas apa yang hendaknya kita lakukan? Tentu dengan meluangkan waktu kita untuk berolahraga sejenak. Sisihkan waktu kita untuk menggerakkan badan kita dengan berolahraga semampunya. Serta dibarengi dengan berjemur misalnya. Sesuai instruksi para ahli kedokteran bahwa berjemur salah satu manfaatnya adalah dapat meningkatkan sistem imun tubuh.

Masih di ayat 18: bahwa salah satu bentuk perlindungan dan pemeliharaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka adalah dengan menjadikan anjing mereka berada di ambang pintu goa, dimana ia duduk di sana dengan menjulurkan kedua lengannya. Sehingga orang yang hendak masuk kedalam goa tidak jadi masuk karna melihat anjing tersebut. Bahkan Allah menegaskan mereka akan ketakutan dengannya, ini menggambarkan kepada kita bahwa seekor anjing saja mampu menjadi tameng bagi mereka. Maka hendaklah kita juga mempersiapkan berbagai tameng bagi diri kita untuk menjaga diri kita selalu dalam keadaan sehat dan terjaga. Salah satunya dengan mengkonsumsi berbagai vitamin dan obat-obatan, tidak lupa dengan pola makan dan istirahat yang teratur sebagai bentuk ikhtiyar untuk melindungi diri kita dari berbagai penyakit.

Dari kisah ini sedikit banyaknya kita hendaklah mengambil beberapa pelajar di dalamnya, terlebih dalam situasi sekarang ini. Janganlah terlalu panik dan jangan pula terlalu mengabaikan, jadilah agen generasi cerdas dan mencerdaskan. 

Oleh: Umair Abdul Aziz (Santri PPA Nur Medina)

Bahan Bacaan:

Muhammad Shadiq Shabry, Memaknai Kisah Ashab Al-Kahfi Dalam Al-Qur’an, Jurnal Tafsere: Vol. 1, No. 1 Tahun 2013: 99-115.

[2] Seperti penggalan pesan Imam ‘Ali dalam kitab Nahjul Balaghah kepada kita semua: “beruntunglah orang yang berdiam diri dirumahnya, kemudian makan dari hasil jerih payahnya sendiri, dan menangisi segala dosa-dosanya”.



2 thoughts on “Lockdown Dalam Perspektif Al-Qur’an “Kisah Ashabul Kahfi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *