Tawasul: Pengertian, Dalil, dan Pro-Kontra

By | September 27, 2020

Pengertian Wasîlah (Tawasul)

Pengertian Wasilah secara etimologi memiliki beberapa arti di antaranya adalah المنزلة عند الملك  (kedudukan di sisi raja), derajat dan kedekatan.[1]

Al Bani mengutip dalam kitabnya al-Tawassul An’amuhu wa Ahkamuhu bahwa Ibnu Faris mengatakan dalam Mu’jam al-Maqayis, al-Wasilah artinya keinginan dan tuntutan. Dikatakan Wasala apabila ia berkeinginan. Al-Wasil artinya orang yang ingin (sampai) kepada Allah.[2]

Raghib al-Asfihani mengatakan dalam kitab Mufradat fi Gharib al-Qur’an bahwa al-Wasilah artinya  التوسل الى الشيء بالرغبة  (penyampaian sesuatu dengan penuh keinginan).  Kata Wasilah (وسيلة) lebih khusus dari Washîlah (وصيلة), yakni Wasilah menyimpanmakna keinginan sedangkan  Washîlah tidak.[3]

Wasîlah dalam pengertian agama adalah sesuatu yang menyambung dan mendekatkan sesuatu dengan Allah, atas dasar keinginan yang kuat dari yang bersangkutan untuk mendekat kepada Allah swt.[4] Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Wasilah adalah sarana yang mengantarkan pada pencapaian tujuan. Wasilah juga merupakan alam (nama tempat) yang berada paling tinggi di Surga, yang merupakan kedudukan atau tempat tinggal Rasulullah Saw di surga.

Dalil Ayat-ayat Wasilah (Tawasul) dalam al-Qur’an

Q.S. al-Maidah [05]: 35. Allah swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersungguh-sungguhlah mencari jalan yang (dapat) mendekatkan diri (kamu) kepada (ridho)-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah [05]: 35).

  • Q.S. al-Isra’ : 56-57. Allah swt. berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا (56) أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Katakanlah (kepada penyembah berhala): Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mampu mengelakkan bahaya dari kamu dan tidak (juga mereka dapat melakukan) pengalihan (yakni memindahkan bencana itu kepada musuh kamu). Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.

Pada ayat pertama di atas perintah untuk mencari Wasilah dan pada ayat yang kedua menjelaskan tentang hamba-hamba Allah yang dekat kepadanya juga melakukan Wasilah. Seluruh ulama’ sepakat tentang pengertian Tawasul di atas. Di antara Wasilah tidak diperselisihkan oleh ulama’ adalah:

  1. Bertawasul atau menjadikan amal-amal shalih sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Wasilah dengan perantara atau doa seorang muslim yang masih hidup, lebih-lebih yang sudah tua          

Mereka berbeda pendapat tentang cara yang dapat di tempuh atau apa dan siapa yang dapat dijadikan perantara guna mendapatkan ridho-Nya. Di antaranya adalah:

  1. Wasilah dengan menyebut nama orang yang dekat kepada Allah, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.
  2. Wasilah yang menggunakan peninggalan orang-orang shaleh untuk dijadikan sarana mendekatkan diri dan berdoa kepada Allah atau yang sering kita kenal dengan istilah Tabaruk.[6]

Ayat ini dijadikan oleh sementara ulama sebagai dalil yang membenarkan apa yang diistilahkan dengan Tawassul, yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama Nabi saw. dan para wali (orang-orang yang dekat kepada-Nya), yakni berdoa kepada Allah guna meraih harapan demi Nabi dan atau para wali yang dicintai Allah swt. Sementara orang, tulis asy-Sya‘râwi, mengafirkan orang-orang yang berTawassul. Tentu saja, bila dia percaya bahwa sang wali memberinya apa yang tidak diizinkan Allah atau apa yang tidak wajar diperolehnya, hal ini terlarang.

Imam al-Alûsi termasuk ulama yang memperbolehkan Tawassul. Setelah menjelaskan panjang lebar tentang wasîlah dan Tawassul, ulama ini berkesimpulan bahwa tidak mengapa berdoa kepada Allah dengan menyebut dan ber-Tawassul atas nama Nabi saw., baik ketika beliau hidup maupun setelah wafat, dalam arti, yang bersangkutan berdoa kepada Allah demi kecintaan-Nya kepada Nabi Muhammad, kiranya Yang Maha Esa itu mengabulkan permohonan si pemohon. Demikian lebih kurang pernyataan al-Alûsi yang dikutip dan disetujui oleh mantan Mufti Mesir yang kini menjabat sebagai Syaikh (Pemimpin Tertinggi) al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthâwi.

Quraish Shihab menyatakan dalam Tafsir al-Mishbah bahwa ulama-ulama yang melarang ber-Tawassul baik dengan nama Nabi saw. lebih-lebih dengan para wali (orang-orang yang dekat kepada) Allah, karena dikhawatirkan hal tersebut tidak dipahami oleh masyarakat awam yang sering kali atau boleh jadi menduga bahwa mereka itulah baik yang telah wafat atau masih hidup yang mengabulkan permohonan mereka atau bahwa mereka mempunyai peranan yang mengurangi peranan Allah dalam pengabulan permohonan mereka atau bahwa mereka dapat memeroleh sesuatu yang tidak wajar mereka peroleh. Keyakinan semacam ini jelas terlarang bahkan salah satu bentuk syirik kepada Allah swt.

  • Hadis yang di perselisihkan

حَدَّثَنَا اَبُوْا النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ رَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو ابْنُ مَالِكٍ اَلنُّكْرِيُّ حَدَّثَنَا اَبُوْ الْجَوزَاءِ اَوْسُ بْنِ عَبْدِ اللّهِ قَالَ قُحِطَ اَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطًا شَدِيْدًا فَشَكَوْا اِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ اُنْظُرُوْا قَبْرَ النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوْا مِنْهُ كِوًى اِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لاَ يَكُوْنَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوْا فَمُطِرْنَا مَطْرًا حَتَّى نَبَتَ الْغُشْبُ وَسَمِنَتْ اَلْاِبِلُ حَتَّ تَفَتَّقَتْ مِنَ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ    

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Zaid telah menceritakan kepada kami Umar bin Malik an-Nukri telah menceritakan kepada kami Abu al-Jauza` Aus bin Abdullah, ia berkata: “Suatu hari penduduk Madinah dilanda kekeringan yang sangat hebat, dan saat itu mereka mengadu kepada ‘Aisyah Radliyallahu’anha, kemudian ia berkata: “Pergilah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada atap diantaranya dengan langit. Kemudian Abu al-Jauza` melanjutkan kisahnya: ” kemudian masyarakat Madinah melakukan apa yang diperintahkan ‘Aisyah Radliyallahu’anha, setelah itu, turunlah hujan dan rerumputan pun tumbuh dan ternak-ternak menjadi sehat. Karenanya tahun tersebut disebut dengan tahun kemenangan.[7]


[1] Ibnu Mandzur, Lisanul Arab, (Mesir: Dar al-Ma’arif, Tth), hal. 4837.

[2] Muhammad Nasiruddin Albani, al-Tawassul An’amuhu wa Ahkamuhu, (Riyad, Maktabah al-Ma’arif, 2001), hal.11.

[3] Raghib al-Ashfihani, Mufradat fi Gharib al-Qur’an, (Mesir: Dar Ibn al-Jauzi, 2012), hal. 580.

[4] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Do’a dan Dzikir, Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2018), hal. 312.

[6] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Do’a dan Dzikir, hal. 315-319.

[7] Imam Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, terj. Abdul Syukur Abdul Razaq, (Jakarta: Pustakaazzam, 2007), hal. 98.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *