Yasinan, Tahlilan dan Kenduri Kematian : Pengertian, Dalil, dan Pro-Kontra

By | September 28, 2020

Definisi Yasinan, Tahlilan dan Kenduri Kematian

Yasinan adalah acara membaca surat yasin yang biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Sedangkan kata tahlilan berasal dari kata kerja bahasa Arab hallala – yuhallilu – tahliilan (هلل – يهلل – تهليلا). Dan kata hallala sendiri memiliki arti membaca kalimat tauhid laa ilaaha illaAllah.

Di mana kata tahlilan itu sendiri, ada yang mengatakan diambil dari pola mashdar kata hallala yaitu tahlilan (تهليلا). Dan adapula yang mengatakan bahwa imbuhan “an” dalam kata tahlil-an mengisyaratkan kepada tradisi yang khas di Indonesia. Maka berdasarkan pendapat kedua ini, istilah tahlilan memiliki definisi sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata tahlilan didefinisikan sebagai, “Pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an untuk memohonkan rahmat dan ampunan bagi arwah orang yang meninggal.”

Adapun maksud dari kenduri kematian pada hari ke 7, 40, 100 dan 1000 dari kematian almarhum adalah kegiatan yang dilakukan oleh pihak keluarga almarhum, apakah sebatas keluarga saja ataupun dengan mengundang tetangga, dalam rangka melakukan ibadah-ibadah mutlak seperti shadaqah dan tahlilan, yang pahalanya diniatkan untuk dihadiahkan kepada almarhum. Dalam KBBI dijelaskan bahwa “kenduri-an” bermakna, “Perjamuan makan untuk memperingati peristiwa, minta berkat, dan sebagiannya.”

Biasanya tradisi ini diisi dengan membaca rangkaian-rangkaian pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, doa, dan zikir yang disebut dengan tahlilan. Lantas kemudian ditutup dengan mauizah hasanah (nasehat) dan doa penutup.[1]

Dalil tentang Yasinan, Tahlilan dan Kenduri Kematian

A. Yasinan

وقال الحافظ أبو يعلى: حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل، حدثنا حجا بن محمد، عن هشام بن زياد، عن الحسن قال: سمعت أبا هريرة يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “مَنْ قَرَأَ يَس فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ.  وَمَنْ قَرَأ َ”حم”  الَتيْ فِيْهَا اَلدُّخَان أَصْبَحَ مَغْفُورًا لَهُ”.

Al-Hafizh Abu Ya’la berkata, “Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Hisyam bin Ziyad, dari al-Hasan, ia berkata, ‘Saya mendengar Abu Hurairah berkata, ‘Rasulullah Saw bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Yasin pada suatu malam, maka pada pagi harinya ia diampuni. Dan siapa yang membaca surat Ha Mim yang di dalamnya ada ad-Dukhan, maka pada pagi harinya ia diampuni”.

Imam Ibnu Katsir memberikan komentar: (إسناد جيد) Sanad Jayyid (baik). [2]

B. Tahlilan

عَنْ اَبِيْ ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَاَمْرٌ بِالْمَعْرُفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ َذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى. (رواه مسلم) 

Dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: “Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (HR. Muslim).[3]

C. Kenduri Kematian

Argumentasi Kenduri Kematian 7 Hari

قال ابو نعيم الاصبهاني: حدثنا ابو بكر بن مالك، ثتا عبد الله بن أحمد بن حنبل ثنا ابي، ثنا هاشم بن القاسم، ثنا الاشجعي عن سفيان قال قال طاووس إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فيْ قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ الْأَياَّمِ.

Thawus berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang sudah mati itu diazab di kubur mereka selama tujuh hari, maka dianjurkan agar bersedekah makanan untuk mereka pada hari-hari itu”.[4]

Imam as-Suyuthi menjelaskan bahwa, riwayat Thawus di atas mencakup dua hukum; hukum akidah dan hukum fikih.

Hadits ini mencakup dua urusan: pertama: masalah akidah, yaitu diujikan ahli kubur selama 7 hari. Dan kedua: masalah hukum far’i (fikih), yaitu dianjurkannya melakukan shadaqah dan pemberian makan atas nama mereka selama tujuh hari tersebut.[5]

Argumentasi Kenduri Kematian 40, 100 dan 1000 Hari

Adapun pembatasan kenduri kematian sebagai pemberian pahala ibadah mutlak pada hari ke 40, 100, dan 1000, memang para pengamalnya mengakui ketiadaan dalil syariat secara spesifik, tidak seperti pembatasan 7 hari sebagaimana telah dijelaskan.

Namun pembatasan ini, mereka qiyaskan kepada tradisi Nabi saw yang dalam beberapa ibadah mutlaknya, Seperti pembatasan Nabi saw, untuk menziarahi masjid Quba’ pada setiap hari sabtu:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صّلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْ مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيُا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ 

Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Nabi saw senantiasa mendatangi masjid quba’ setiap hari sabtu, dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Dan Abdullah bin Umar juga melakukannya. (HR. Bukhari Muslim).

Mengomentari hadits ini, imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata dalam Syarah Shahih al-Bukhari:

وَفِيْ هَذَا الْحَديْثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيْصِ بَعْضِ الْاَيَّامِ بِبَعْضِ الْاَعْمَالِ الصَّالحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ وَفِيْهِ اَنَّ النَّهْيَ عَنْ شَدِّ الرِّحَالِ لِغَيْرِ الْمَسَاجِدِ اَلثَّلَأثَةِ لَيْسَ عَلَى التَّحْرِيْمِ  

Dalam hadits ini, terlepas adanya perbedaan periwayatan atasnya, menunjukkan akan bolehnya mengkhususkan sebagian hari untuk melakukan amal shalih, dan mendawamkannya. Dan atas dasar ini pula, maka hadits yang melarang untuk bersungguh-sungguh dari melakukan perjalanan selain tiga masjid, tidak dihukumi (larangan tersebut) dengan hukum haram.[6]

Imam an-Nawawi juga berkata dalam Syarah Shahih Muslim:

وَقَوْلُهُ كُلَّ سَبْتٍ فِيْهِ جَوَازُ تَخْصِيْصِ بَعْضِ الْاَيَّامِ بِالزِّيَارَةِ وَهَذَا هُوَ الصَّواَبُ وَقَوْلُ الْجُمْهُوْرِ

Dan sabdanya, “Setiap sabtu,” menjadi dalil akan bolehnya mengkhususkan sebagian hari untuk berziarah. Dan inilah pendapat yang benar serta pendapat mayoritas ulama.

Argumentasi Kenduri Kematian Tahunan (Haul)

Tradisi haul atau kenduri kematian yang dilakukan bersifat tahunan, maka para pengamalnya mendasarkan pada hadits berikut:

عَنِ الْوَاقِدِيُّ، قَالَ: قَدْكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُوْرُهُمْ فِيْ كُلِّ حَوْلٍ، وَاِذَا تَفَوَّهَ الشِّعْبَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (الرعد:24) ثُمَّ اَبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانُ، وَكَانَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَأْتِيْهِمْ فَتَكُنُّ عِنْدَهُمْ وَتَدْعُوْ، وَكَانَ سَعْدُ بْنُ أضبِيْ وَقَاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ، ثُمَّ يُقْبِلُ عَلَى اَصْحَابِهِ فَيَقُوْلُ: أَلَا تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمُ السَّلاَمَ وَكَانَ اَبُوْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيُّ يَزُوْرُ تِلْكَ الْقُبُوْرَ، وَذُكِرَ ذَلِكَ اَيْضًا عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، وَاَبِيْ هُرَيْرَةَ.

Dari al-Waqidi, ia berkata: Rasulullah saw senantiasa mengunjungi makam pahlawan Uhud setiap tahunnya. Jika telah sampai di Syi’b (pemakaman), beliau meninggikan suaranya dan bersabda: “SALAMUN ‘ALAIKUM BIMAA SHOBARTUM FA NI”MA ‘UQBAD DAAR (semoga kalian selalu memperoleh kesejahteraan dengan kesabaran yang telah kalian lakukan, sungguhnya senikmat-nikmatnya tempat adalah akhirat).” Tradisi tahunan ini pun dilanjutkan oleh Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. Demikian pula Fathimah binti Rasulillah, yang mendatanginya dan mendoakan mereka. Sa’ad bin Waqqash juha menyampaikan salam kepada mereka, kemudian menghadap kepada para shahabatnya dan berkata: “Ingatlah ucapkanlah salam kepada kaum (ahli kubur) yang akan menjawab salam kalian.” Dan Abu Said al-Khudri juga mengunjungi makam itu dan menyebutkan hal itu juga dari Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah. (HR. Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah).[7]

Pro Kontra Yasinan, Tahlilan dan Kenduri Kematian

1 Tidak ada contoh dari Rasulullah SAW

Penolak:

Tradisi ini tidak dikenal pada masa Rasulullah saw. Di mana pada masa Nabi saw, banyak sahabat yang meninggal, termasuk anak beliau Ruqoyyah, Ummu Kultsum, Zainab, dan Ibrahim. Namun tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi saw memberi makan atas nama mereka selama tujuh hari.

Pengamal:

Kalaupun memang tradisi ini tidak dilakukan oleh Nabi saw, bukan juga berarti tradisi ini otomatis dilarang. Sebab sunah Nabi saw, bukan hanya perbuatan beliau. Tapi juga taqrir atau persetujuan Nabi atas perbuatan sahabat. Dan pernyataan Thawus di atas, menegaskan bahwa tradisi pemberian makan selama 7 hari pasca wafatnya seseorang, telah dilakukan oleh para shahabat dan tidak diingkari oleh Nabi saw.

2 Tradisi Jahiliyah

Penolak:

Pihak yang anti tradisi ini, juga memberikan kritikan, bahwa tradisi ini merupakan tradisi agama di luar Islam seperti Hindu dan Budha. Di mana saat para dai dan ulama masuk ke masyarakat Nusantara pada proses awal dakwah mereka, tradisi tersebut tetap diterima dalam rangka merangkul mereka agar masuk Islam.

Pengamal:

Imam Suyuti menjelaskan bahwa Tradisi (sunah) pemberian makan (atas nama ahli kubur) selama 7 hari, aku dapati merupakan tradisi yang terus dilakukan sampai hari ini (imam as-Suyuti wafat tahun 911 H) di Mekkah dan Madinah. Maka tampak bahwa tradisi ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga hari ini. Di mana setiap generasi mengambilnya dari generasi sebelumnya hingga generasi pertama. Dan aku juga membaca banyak sejarah tentang biografi para ulama yang menceritakan bahwa orang-orang selama 7 hari melakukan kegiatan di kuburannya seperti membaca al-Qur’an (sebagai bagian dari shadaqah pahala). Di antaranya riwayat dari al-Hafiz Abu al-Qasim bin ‘Asakir yang menceritakan dalam kitabnya, “Tabyin Kadzb al-Muftari fiima Nusiba ilaa al-Imam Abi al-Hasan al-‘Asy’ari,” bahwa ia mendengar Syaikh al-Faqih Abu al-Fath Nashrullah bin Muhammad bin Abdul Qawiy al-Mishishiy berkata: Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi wafat pada hari selasa, tanggal 9 Muharram, tahun 490 H di Damaskus. Lantas kami melakukan kegiatan selama 7 hari di kuburnya dengan mengkhatamkan al-Qur’an pada setiap harinya sebanyak 20 kali.[8]

                [1] Isnan Anshori, Pro Kontra Tahlilan dan Kenduri Kematian, (Jakarta: Rumah Fiqih Publishing, 2019), hal. 06.

                [2] Abdul Somad, 37 Masalah Populer, (Riau, Tafaqquh Media, 2017), hal. 18.

                [3] Tim LTM PBNU, Wahabi Menuduh Santri Menjawab, (Jakarta: Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, 2018), hal. 31.

                [4] Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hilyah al-Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, (Mesir: Sa’adah, 1394/1974), hal. 11.

                [5] Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin as-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawa, (Bairut: Dar al-Fikr, 1424/2002), hal. 222.

                [6] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, 1379), hal. 69.

                [7] Abu Bakar al-Baihaqi, Dalail an-Nubuwwah wa Ma’rifah Ahwal Shahib asy-Syari’ah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1408/1998), cet. 1, hal. 3/308.

                [8] Isnan Anshori, Pro Kontra Tahlilan dan Kenduri Kematian, hal. 215.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *