Zakat Fitrah, Takbiran dan Idul Fitri

By | Mei 23, 2020

Pengertian, Pembagian, Dalil, dan Niat ZAKAT

Pengertian Zakat

Zakat adalah ibadah wajib bagi semua umat Islam yang telah memenuhi ketentuan berzakat dan termasuk ke dalam rukun Islam
ketiga. Secara bahasa zakat artinya bersih, suci, berkat dan berkembang. Dari segi istilah zakat mengacu kepada harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang yang beragama Islam dan diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Pembagian Zakat

Zakat terbagi dua; zakat harta (mal) dan zakat fitrah. Zakat harta (mal) adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari hasil pertanian,
pertambangan, pelayaran, perniagaan, ternak hingga emas dan perak yang dimiliki. Harta-harta ini wajib dikeluarkan setelah mencapai nisab (jumlah) tertentu dan haul (masa satu tahun kepemilikan). Sedangkan zakat fitrah adalah zakat yang wajin ditunaikan oleh umat Islam yang bisa ditunaikan sejak awal Ramadhan hingga waktu yang ditentukan.
Kewajiban ini bersifat mengikat bagi umat Islam yang mampu menunaikannya, baik bagi anak kecil maupun orang dewasa, laki-laki atau perempuan.

Madzhab Syafi’i membagi batas akhir pembayaran zakat fitrah menjadi beberapa bagian;

1. Waktu mubah, yaitu sejak awal hingga akhir Ramadhan. Tidak boleh membayar zakat sebelum masuk bulan Ramadhan.

2. Waktu wajib, yaitu waktu akhir Ramadhan dan awal Syawwal. Dalam hal ini, kewajiban bayar zakat fitrah berlaku
bagi orang yang mengalami hidup pada sebagian waktu Ramadhan dan sebagian waktu Syawwal meski sejenak.

3. Waktu sunnah, yaitu sebelum shalat Id berlangsung. Bisa dikatakan, waktu ini berlangsung sejak malam takbiran hingga pagi sebelum shalat Idul Fitri.4. Waktu makruh, yaitu setelah shalat Idul Fitri hingga tanggal Satu Syawwal berakhir, yaitu maghrib hari raya Idul Fitri.

5. Waktu haram, yaitu setelah tanggal 1 Syawwal berakhir.

Dalil Hadist Zakat Fitrah

Rasulullah saw. bersabda:

شَهْرُ رَمضَانَ مُعَلَّقٌ بَيْنَ السَمَاءِ وَ الأَرْضِ وَ لاَ يُرْفَعُ إِلَى اللَّهِ إلاَّ بِزَكَاةٍ الفِطْرِ

“ (pahala) Bulan Ramadhan tergantung pada langit dan bumi, dan tidak diangkat kepada Allah kecuali dengan berzakat fitrah” (HR. Ibnu Syahin, Dhiyauddin dan Ibnu Shashari) Hadis ini dinilai Hasan Gharib oleh Imam Mulla ‘Ali Al-Qari dalam “Mirqah Al Mafatih” dan Imam Ibnu Hajar al- Haitami dalam “Syarah Asy-Syarwani”.

Al-Hafizh Al-Munawi dalam “Faidh al-Qadir” pada jilid ke-2 halaman 567, beliau menjelaskan:

“(Pahala) puasa tidak akan diterima oleh Allah swt. kecuali dibarengi dengan menunaikan zakat fitrah. Diterima dan berpahalanya puasa adalah tergantung dengan zakat yang dikeluarkan. Dan kemungkinan terdapat maksud lain, bahwa puasanya tidak akan diterima secara sempurna dan juga tidak mendapatkan ridha Allah swt., kecuali hanya sebagian saja, dan pahalanya sudah pasti tidak sebanding dengan pahala orang yang menunaikan zakat fitrah.”

Artinya, puasa kita sebagai habl min Allah belum dianggap oleh Allah swt. manakala kita belum menunaikan hak kita kepada sesama, yaitu menunaikan zakat sebagai habl min an-nas yang melengkapi, menyempurnakan, dan memudahkan pahala kita sampai, diterima, dan mendapat ridha dari Allah swt. Ini juga sesuai dengan hadis dari Rasulullah saw.

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari omongan-omongan yang sia-sia dan kotor atau tidak baik” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Niat Zakat Fitrah

Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ نَفْسِى فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah Untuk Istri

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ زَوْجَتِي فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah Untuk Anak Laki Laki

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ وَلَدِي فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak laki-lakiku…. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah Untuk Anak Perempuan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ بِنْتِي فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anak perempuanku…. (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنِّي وَ عَنْ مَا يَلْزَمُنِي نَفَقَتُهُمْ زَرْعًا فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Zakat Fitrah Untuk Orang yang Diwakilkan

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ زَكَاةَ الفِطْرِ عَنْ (…….) فَرْضًا للهِ تَعَالَى

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk… (sebutkan nama yang dimaksud), fardhu karena Allah Ta‘âlâ.”

Niat Menerima Zakat

آجَرَكَ اللهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَبَارَكَ فِيِِْمَا أَبْقَيْتَ، وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا

“Semoga Allah memberikan pahala atas apa yang engkau berikan, dan semoga Allah memberikan berkah atas harta yang kau simpan dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu.”

Bila yang memberikan zakat itu mewakilkan zakatnya orang lain, maka niatnya

آجَرَهُ اللهُ فِيْمَا أَعْطَى، وَبَارَكَ فِيْمَا أَبْقَى، وَجَعَلَهُ لَهُ طَهُوْرً

Catatan: Sebagaimana tidak diwajibkannya talaffudh, penggunaan bahasa Arab ketika talaffudh itu dilakukan juga bukanlah keharusan. Seseorang bisa melafalkan niat tersebut dengan bahasa lokal masing-masing karena pada prinsipnya ia hanyalah “sarana bantu” untuk memantapkan niat berzakat fitrah, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain. Yang paling pokok adalah terbesitnya dalah hati bahwa dia benar-benar bersengaja untuk menunaikan zakat fitrah.

MALAM TAKBIRAN

Malam takbiran adalah salah satu malam yang mulia, yaitu malam ketika umat Islam di dunia saling bersahutan, berlomba-lomba memperbanyak dzikir, mengagungkan dan memuji Allah SWT., dan pada malam itu kita dianjurkan untuk melaksanakan beberapa amalan, di antaranya:

1. Beribadah, Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Ibnu Majah

مَنْ قَامَ لَيْلَتَى الْعِيْدَيْنِ لِلَّهِ مُحْتَسِبًا لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ

“Barangsiapa yang menghidupkan dua malam ‘id dengan beribadah karena Allah dan mengharapkan ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati manusia mati”.

2. Mengumandangkan Kalimat Takbir, Allah SWT berfirman

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰكُمْ ولَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (jumlah hari puasa) dan bertakbir mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

3. Berdo’a, Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm menyatakan

بَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يَقَالُ إِنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِي لَيْلَةِ الْفِطْرِ

Telah sampai kepada kami, dikatakan bahwasannya do’a itu dikabulkan (pada lima malam, salah satunya) pada malam Hari Raya Idul Fitri (malam takbiran).

LAFADZ TAKBIRAN

اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ ـ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ ـ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الحَمْدُ اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً

لآ اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ مُشْرِكُوْنَ

لآاِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلَّا اللّٰهُ . اللّٰهُ اَكْبَرُ اللّٰهُ اَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ الْحَمْدُ

Allah Mahabesar Allah Mahabesar Allah Mahabesar, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Allah Mahabesar, Allah Mahabesar dan segala puji untuk-Nya. Allah Mahabesar dengan segala kebesaran-Nya, sagala puji untuk-Nya sebanyak-banyaknya, dan Mahasuci Allah sepanjang pagi dan sore. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, kami tidak menyembah apapun kecuali hanya kepada-Nya dengan tulus beragama Islam, meskipun orang Kafir dan Musyrik membencinya. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan keesaan-Nya, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, memuliakan tentara-tentara-Nya, dan mengalahkan musuh dengan keesaan-Nya, Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Mahabesar, Allah Mahabesar dan segala puji adalah kepunyaan-Nya.
Catatan: Menurut almarhum KH. Maimun Zubair, tidak boleh menambah-kan redaksi kata ولو كره المنافقون karena tidak ada dalam Alquran.

IDUL FITRI

Beberapa amalan yang dianjurkan ketika Idul Fitri, di antaranya:

1. Menghidupkan malam Idul Fitri dengan beribadah, seperti dzikir, shalat, dan membaca Al Quran. Bisa juga dengan banyak-banyak membaca istighfar, takbir, dan tasbih. Utamanya dilakukan pada sepertiga akhir malam hari raya. Dan lebih utama lagi jika dilakukan semalam penuh. Ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW. “Barangsiapa yang menghidupkan dua malam ‘id dengan beribadah karena Allah dan mengharapkan ridha-Nya, maka hatinya tidak akan mati pada hari ketika hati manusia mati”.

2. Mempersiapkan diri sebaik mungkin; Mandi, memakai wangi-wangian, bersiwak dan memakai pakaian paling bagus, sebagaimana ketika akan berangkat shalat jumat. Semuanya dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

3. Berangkat Shalat Idul Fitri sepagi mungkin walaupun matahari belum terbit. Tujuannya agar lebih dekat dengan imam, dan menanti shalat akan mendapatkan pahala yang banyak. Syaikh Shalih Fauzan mengatakan bahwa, “hendaknya kita mengulang-ulang takbir sejak malam hari raya hingga dalam perjalanan menuju ke tempat shalat id. Teruslah bertakbir sampai tiba pelaksanaan shalat id yang dipimpin oleh imam”. Bila memungkinkan, disunnahkan berangkat ke tempat shalat dengan berjalan kaki.

4. Makan sebelum berangkat Shalat Idul Fitri. Dan baiknya adalah makan kurma dengan jumlah ganjil. Berbeda dengan Idul Adha yang disunnahkan makan setelah pulang dari shalat. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Bukhari:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِك: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لََا يَغَْدُوْ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ, (فِي رواية أخرى) وَيَأْكُلُهُنَّ وِتْرًا

“Rasulullah SAW tidak berangkat shalat Idul Fitri sebelum memakan kurma, (dalam riwayat lain terdapat tambahan) dan Rasulullah memakan kurma dalam jumlah ganjil”.

Imam Syafi’i menjelaskan dalam Kitab Al-Umm bahwa makruh hukumnya meninggalkan kesunnahan ini. Bila ada kurma, disunnahkan memakan kurma dalam jumlah ganjil, jika tidak ada maka diganti dengan makanan biasa, dan jika tidak ada makanan maka cukup dengan minum (minum dalam hal ini dihukumi sama dengan makan dan masuk dalam kesunnahan).

Hikmahnya adalah untuk menghilang-kan perasaan mengenai kewajiban puasa dan mengingatkan bahwa 1 Syawwal merupakan hari dilarangnya berpuasa.

5. Memperbanyak sedekah sunnah melebihi dari kebiasaan, namun tetap harus sesuai kemampuan.

6. Menunjukkan kegembiraan sebagai rasa syukur kepada sesama serta mempererat hubungan persaudaraan.

7. Shalat Id berjama’ah.

8. Mendengarkan khutbah sampai selesai.

9. Saling mendo’akan dengan memberikan ucapan

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ

Mudah-mudahan Allah menerima amalan kita semua

10. Menjalin silaturrahim, di Indonesia terdapat kebiasaan yang baik Hari Raya Idul Fitri yaitu mengadakan acara “Halal bi Halal”, ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW dalam beberapa riwayat

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلََّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يُّفْتَرِقَا (فِي رواية أَنْ يَّتَفَرَّقَا)

“Tidaklah kedua orang yang beragama Islam bertemu kemudian bersalam-salaman, kecuali Allah SWT mengampuni dosa-dosa di antara keduanya sebelum mereka berpisah”. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *