Hidup sungguh sangat sederhana, Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Tadabbur surat al-Insyirah

By | Maret 20, 2021

Masih ingat dengan quote “Hidup sungguh sangat sederhana, Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” ? yap itu ialah quote dari sang maestro Pramoedya Ananta Toer, beliau merupakan pengarang novel tetralogi dari buku yang berjudul Bumi Manusia yang sudah diperfilmkan dan dipertunjukan dalam bioskop sampai novel yang terakhir yakni Rumah Kaca.

Di perjalanan asiknya novel beliau banyak terkandung kata-kata yang menyentuh hati banyak orang dan biasa dijadikan quote-quote diantaranya yang penulis ingat adalah :

“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”

dan quote yang ini :

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

dan juga yang mau dibahas dalam topik kali ini yakni “Hidup sungguh sangat sederhana, Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.”

Alasan penulis dalam menuliskan topik kali ini hanya ingin sedikit beropini mengenai quote ini yang penulis rasa quote ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan penulis, mungkin juga untuk teman-teman sekalian yah. Karena sering kali kita sudah panik duluan dan tergesa-gesa oleh suatu urusan atau permasalahan sehingga kita terus menerus memikirkan bayangan-bayangan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut sampai hal ini sangat membayangi kita dan menyibukkan kita. Dan sering kali juga permasalahan tersebut dapat diselesaikan oleh hal-hal yang sederhana dan tak terduga-duga.

Ya intinya seperti itu, maksud dari quote dan topik kali ini. Kemudian yang menarik lagi, kita sebagai orang islam meyakini khususnya saya pribadi bahwasanya salah satu fadhilah surat al-Insyirah ialah permohonan do’a kepada Allah agar kita dimudahkan dalam segala urusan. Nah penulis hendak menengahi dan mempertemukan quote Pramoedya Ananta Toer ini dengan kandungan surat al-Insyirah.

Hubungan Surat al-Insyirah dengan do’a dimudahkan dalam segala urusan

Surat al-Insyirah juga mempunya nama lain berupa Alam Nasyrah atau surah asy-Syarh, kesemuaan nama itu merujuk pada ayat pertamanya.

Kata نَشْرَحْ nasyrah berasal dari kata شرح syaraha yang mempunyai arti memperluas, melapangkan, baik secara material maupun immaterial.

Tema utama surah ini adalah penenagan hati Nabi Muhammad saw. menyangkut masa lalu dan masa datang beliau, serta tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh optimisme. (Tafsir al-Mishbah).

Menurut Gus Nadirsyah Hosen Al-Qur’an merekam peristiwa ketika Nabi Musa berdoa:

‎قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku” (QS 20:25)

Sedangkan untuk Nabi Muhammad, Allah befirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَك

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS 94:1)

Ini artinya, sementara Nabi Musa memohon kepada Allah diberi kelapangan dada, Allah telah mengaruniai kelapangan dada itu kepada Nabi Muhammad tanpa diminta. Kelapangan dada ini sangat penting sebagai bekal menjalankan amanah Allah. Mereka yang lapang hatinya akan mampu menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang menyentuh hati pendengar/pembacanya.

Ayat yang menjadi andalan penda’i dalam berdakwah mengenai janji Allah pasti mendatangkan solusi dalam setiap permasalahan hambanya ialah ayat 5 dan 6 :

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan, (5)

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (6)

Hal ini sangat relevan mengenai hal janji Allah atas permasalahan hambanya, karena memang ayatnya berbunyi demikian. namun yang menjadi koreksian bahwa pengartian kata sesudah untuk mewakili lafadz مَعَ itu kurang tepat, secara harfiah lafadz مَعَ lebih sering diartikan sebagai bersama atau beserta. Jadi dapat diartikan seperti ini :

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan”(5),

“sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan”(6).

Hal ini tentu berbeda dalam segi pengambilan kesimpulan, apabila lafadz مَعَ diartikan dengan setelah dalam ayat tersebut maka kesimpulannya Allah menjanjikan kemudahan setelah kesulitan hambanya terselesaikan. Tentu hal ini kurang tepat.

Maka dari itu lafadz مَعَ dalam surat al-Insyirah ayat 5 & 6 lebih tepat bila diartikan dengan kata beserta karena kita yakini betul bahwa Allah pasti mendatangkan betul kemudahan beserta kesulitan yang kita alami.

Mengutip dalam buku Hidup itu Harus Pintar Ngegas & Ngerem karya Caknun diterangkan “Kalimatnya : Inna ma’al ‘usri yusra, fainna ma’al ‘usri yusra. Terjemahannya: sesudah kesulitan ada kemudahan. Bahasa Arabnya: inna ba’dal ‘usri yusra. Itu bukan ba’da, ba’da itu ‘kan sesudah. itu bunyinya ma’a. Bersamaan, bareng. Bersamaan dengan kesulitan ada kemudahan. Sudah ada kemudahannya. Maka, Allah kasih kita akal supaya mencari kemudahannya. Jadi, jangan disangka sesudah, tapi sudah ada.

Nah, makanya janganlah kita tergesa-gesa atau hebring dalam menghadapi masalah. karena, tugas kita hanya mencari kemudahan yang Allah datangkan bersama kesulitan tersebut.

Mengutip juga perihal ayat ini, dari Gus Nadirsyah Hosen :

Allah menegaskan untuk Nabi Muhammad:
‎فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS 94:5)

Dan diulang kembali:
‎إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Ini artinya, dari satu kesulitan, akan lahir dua kemudahan. Karena kata al-‘usr (kesulitan) dalam bentuk isim ma’rifah yang meskipun diulang namun maknanya satu. Sementara kata yusran menggunakan bentuk nakirah, sehingga diulang dua kali menunjukkan ada dua jenis kemudahan yang berbeda.

Dapat diambil kesimpulan bahwa disamping Allah medatangkan kemudahan itu bersamaan dengan datangnya kesulitan, juga Allah menawarkan dua kemudahan dalam satu kesulitan yang sedang dialami.

Lebih luas dari itu, bila kesulitan menggunakan kata al-‘usr dalam bentuk isim ma’rifah yang menunjukan pengkhususan dan kata kemudahan menggunakan yusran dalam bentuk nakirah yang menunjukan arti umum dan acak, ini berarti dalam satu kesulitan terdapat berbagai macam kemudahan yang tidak ditentukan jumlahnya.

Ulasan

Dalam hal ini, sudah selayaknya kita bersikap untuk berusaha sekuat tenaga terhadap permasalahan yang kita hadapi dan kita juga sudah selayaknya untuk tidak bersikap tergesa-gesa dalam menghadapi permasalahan, karena kita harus meyakini bahwa Allah telah berjanji kepada kita dalam setiap satu permasalahan Allah SWT datangkan bersamanya dua kemudahan bahkan lebih dari hal yang umum dan tidak diduga (nakirah).

Sesuai judul topik kali ini Hidup sungguh sangat sederhana, Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Wa Allahu a’lam bis shawab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *