Profil Pondok

Sejarah Pondok Pesantren Al-Qur’an Nur Medina

Pada bulan Mei tahun 2004 dimulailah pengajian al-Qur’an di rumah kediaman beliau yang masih mengontrak, di jalan Trubus II RT. 01 RW. 04 Pondok Cabe dengan santri yang mengaji tiga orang. Berbekal kesungguhan mereka berdua terus mengabdikan dirinya dalam pembinaan dan pembentukan karakter masyarakat.

Bulan Januari tahun 2005 jumlah santri yang menimba ilmu dikontrakan beliau bertambah sampai 50 santri pengajian, pengajian al-Qur’an pun semakin semarak, sehingga masyarakat luas banyak mengenal tempat pengajian ini dengan nama Majelis Ta’lim al-Husna yang diambil dari perintisnya yaitu ustadz Endang Husna.

Tahun 2006 yakni 2 tahun berjalan syiar pengajian semakin terdengar luas. Murid yang mengaji pun semakin tak terbendung, mencapai 150 santri lebih. Rumah kediaman beliau tak lagi dapat menampung. Akhirnya sebagian murid mengaji di teras rumah. Dengan semakin bertambahnya jumlah murid yang mengaji maka diperlukan tambahan guru pengajar untuk mengkondisikan dan memaksimalkan pengajian. Maka di tahun ini pula bertambahlah satu tenaga pengajar dari karawang yaitu Ustadzah Umamah, kemudian disusul tiga guru dari kampung setempat yaitu Ustadzah Yaning, Ustadzah Yanti, dan Ustadzah Dewi.

Pada Tahun 2006 – 2007, Majlis Ta’lim al-Husna semakin memasyarakat. Selain karena cita – cita Ustadz Endang yang ingin menciptakan pendidikan serta pembinaan dan pembentukan karakter masyarakat, juga dukungan para guru, tetangga, lingkungan setempat, dan para wali santri yang begitu besar menjadikan pengajian ini tempat yang nyaman untuk para santri menimba ilmu dan pengalaman. Meskipun dengan beberapa kali perluasan teras halaman rumah, namun derasnya pertambahan santri tidak lagi dapat diimbangi. Akhirnya, para santri benar – benar tidak dapat tertampung lagi.

Pada tahun ini sepulang dari tanah suci, Ustadz H. Endang dan istri Ustadzah Hj. Arbiyah Mahfuz berinisiatif untuk mulai mencari tempat yang lebih memadai. Nama Majelis Ta’lim al-Husna juga ikut diganti dengan Nur Medina. Ini didasari dengan spirit perjalanan haji beliau dari Madinah Al-Munawwarah dapat terus dijaga dalam usaha beliau mengamalkan ilmunya kepada Masyarakat.

Photo Ustadz Endang se-keluarga, tahun 2019

Filosofi kata Nur Medina (Nurul Madinah) juga diambil dari hijrah Rasulullah saw dari kota Makkah ke kota Madinah yang menjadi awal mula terbukanya jalan syiar beliau. Madinah menjadi pusat dakwah dan peradaban Islam. Hijrah Nabi saw mengubah budaya Jahili menuju budaya Islami.

Nama Nur Medina diharapkan dapat menjadi spirit dakwah seperti keberhasilan dakwah Rasulullah saw dengan hijrahnya beliau ke Madinah. Hijrah Nur Medina berarti hijrah dari situasi yang kurang baik menjadi lebih baik atau lebih spesifiknya adalah siapapun yang belajar di Nur Medina diharapkan akan menjadi manusia yang cerdas, disiplin, berkarakter, berkerpribadian dan berakhlakul karimah, sehingga nama Nur Medina identik dengan keinginan membangun peradaban baru yang lebih baik yang dilandasi oleh al-Qur’an.[1]

Harapan mulia beliau akhirnya mulai mendapatkan titik terang. Di hari ketiga istikharah beliau, Ustadz H. Endang kedatangan tamu dari Solo (Jawa Tengah) yaitu Bapak H. Sugondo dan istrinya Hj. Ninik Mulyani didampingi anak dan menantunya, Mas Jarot, Mas Jodi dan Mbak Anik (Owner Warung Steak) hendak bersilaturahim ke kediaman ustadz. Mereka yang tidak lain adalah teman seperjalanan haji beliau pada tahun 2005, Bapak H. Sugondo beserta keluarga berusaha untuk bersama-sama merealisasikan harapan ustadz H. Endang mencari tempat pengajian yang lebih mencukupi. Dengan izin Allah, melalui salah seorang wali santri yaitu Ibu Kartini, ustadz Endang membeli tanah milik H. Muhamin atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan H. Semu di Jalan Cabe3, RT. 004 RW. 004 Pondok Cabe Ilir seluas 170 meter persegi.

Awal tahun 2008, pembangunan tempat pengajian baru pun dimulai. tempat yang diharapkan dapat memberikan lebih banyak ruang gerak, manfaat dan kelayakan bagi para santri. Di dalam proses pembangunan tersebut, ustadz H. Endang akhirnya dapat menambah lagi 86 meter kubik disekitar area pembangunan. Kemudian dalam kurun waktu yang relatif tidak lama, Ustadz H. Endang mendapat dukungan dari Bapak H. Jodi dan Bapak Agus Darsono untuk membeli lagi tanah tersisa yang masih kosong dengan luas 3000 meter persegi.

Mei tahun 2009, yakni setelah selesainya pembangunan tempat pengajian baru yang berlangsung kurang lebih satu tahun, area baru ini resmi ditempati. Kegiatan pengajian pun semakin terkondisi. Nama Majelis Ta’lim Nur Medina semakin dikenal masyarakat, hingga beberapa santri meminta izin kepada ustadz Endang untuk menambah jam pengajian al-Qur’an dengan mulai ikut tinggal bermukim di Majelis Ta’lim. Santri – santri tersebut adalah Sukardi Hasan, Zaenal Abidin, Nurul Khotimah, Mustaqimah Ubaidillah dan sri Rahayu.

Di tahun ini juga, terjadi perkembangan di bidang pendidikan dan dakwah. Pengajian yang pada awalnya diadakan ba’da  maghrib, kemudian ditambah lagi ba’da isya’ dan ba’da subuh. Kegiatan pun semakin banyak dan bervariasi. maka dengan terus berkembangnya pengajian di tempat baru ini, Ustadz H. Endang, para guru dan masyarakat setempat menyepakati untuk menjadikan Majelis Ta’lim sebagai pesantren yang kemudian dikenal dengan Pesantren al-Qur’an Nur Medina.

Tahun 2010 barulah diresmikan dengan nama Pondok Pesantren al-Qur’an (PPA) Nur Medina.

Dalam proses perkembangan pendidikan tidak hanya masyarakat sekitar Pondok Cabe saja yang menikmati pengajaran al-Qur’an yang diterapkan, melihat tata letak yang sangat strategis berdampingan dengan beberapa institusi perguruan tinggi maka pesantren al – Qur’an Nur Medina juga semakin banyak didatangi oleh para calon maha santri dari berbagai kota dan provinsi yang niat untuk bermukim dan ngaji di pesantren sekaligus meneruskan belajar pada perguruan tinggi. Mereka adalah mahasiswa/i Institut Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (IPTIQ), Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan beberapa kampus lainnya disekitar Pesantren Al-Qur’an Nur Medina.

Kemudian pada tahun 2012, Ustadz Endang dan Ustadzah melihat akan sebuah organisasi induk yang dapat menggerakan segala kegiatan, maka beliau membentuk Yayasan Raudlatul Huffazh Nur Medina yang diresmikan pada tanggal 15 Oktober 2012. Yayasan inilah yang menjadi fasilitas bagi santri dalam praktik mengajar, selain menjadi santri yang bermukim di PPA Nur Medina.

Potrait Kegiatan Khataman al-Qur’an bersinergi dengan Yayasan Raudlatul Huffazh, tahun 2014

Pesantren al-Qur’an Nur Medina mempunyai ciri khas sendiri yakni “Berwawasan Wirausaha”, dari seluruh maha santri yang bermukim di pesantren beberapa telah membuka berbagai usaha dan bisnis untuk menambah skill yang dimiliki, pengasuh sendiri mendukung penuh usaha maha santri dalam mentradisiskan berwirausaha.

Visi dan Misi PPA Nur Medina

Visi

  1. Terciptanya pendidikan tingkat tinggi untuk santri sebagai pusat tafaqquh fi al-Din yang berakhlak yang baik, akhlaq al-karimah.
  2. Menjadi Pesantren yang melahirkan khair al-ummah (umat terbaik).
  3. Berkompetensi global dan berwawasan internasional.

Misi

  1. Menyelenggarakan pendidikan, kajian dan pengabdian keislamanan secara holistic dan komprehensif bagi santri melalui kitab klasik maupun kontemporer.
  2. Menciptakan dan mengembangkan kemandirian berpikir dan dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam semua sisi kehidupan.
  3. Mewujudkan lembaga pendidikan tinggi bagi santri yang murah (gratis) tapi berkualitas.

Santri-santri PPA. Nur Medina

Santri-santri yang belajar di PPA. Nur Medina, selain menghafal dan belajar megenai al-Quran serta ilmu-ilmu keislaman yang lain, santri juga dilatih agar bisa menjadi Ustadz dan Ustadzah atau pendamping adik-adik santri pengajian Yayasan Raudlatul Huffazh (Pengajian bersama adik-adik warga sekitar Pesantren setiap ba’da Maghrib), dan ini merupakan salah satu kewajiban bagi santri PPA. Nur Medina sebagai media dalam mengamalkan ilmunya dan bentuk pengabdian kepada Pesantren. Santri PPA. Nur Medina, baik putra maupun putri terbagi menjadi beberapa tingkatan dengan tugas atau target yang berbeda-beda.

Santri Putra

Mubtadi’

Santri putra yang berada pada tingkatan mubtadi’ ini adalah para santri-santri yang mendapat perhatian dan bimbingan khusus dalam mengajinya, targetnya adalah bisa mengaji dengan baik dan fashih sesuai standar di PPA. Nur Medina. Setelah bagus dan lancar mengajinya, barulah para santri akan dikenakan kewajiban menghafal. Target hafalan dalam tingkatan ini adalah dari surah An-Nas sampai surah at-Takatsur. Ini adalah bentuk latihan mengahafal untuk dapat mencapai target hafalan yang ditetapkan oleh Pengasuh PPA. Nur Medina.

Mutawassith

Santri – santri yang berada pada tingkatan ini adalah santri yang dianggap telah bagus mengajinya dan sesuai standar PPA. Nur Medina dan dianggap sudah mampu menghafal. Ada beberapa surah dalam al-Quran yang harus dihafal dengan tempo waktu yang berbeda-beda. Tidak hanya hafalan al-Quran, pada tingkatan ini pun santri-santri diharuskan hafal do’a-do’a sehari-hari, seperti do’a setelah shalat, do’a khataman dan lain-lain.
Adapun hafalan – hafalan wajib pada tingkatan ini:

– Juz 30
– Surah Yasin
– Surah al – Mulk
– Surah ar – Rahman
– Surah al – Waqi’ah
– Surah as – Sajadah
– Surah al – Kahfi
– Surah ad – Dukhan

Mutaqoddim

Para mutaqaddimin ini biasa disebut dengan instruktur, yaitu para santri yang dipercaya oleh pengasuh untuk menjadi instruktur santri-santri yang lain. Biasanya santri mutaqoddim ini diamanahi untuk mengawasi beberapa santri dalam perkembangan mengajinya dan hafalan-hafalan lain yang ditetapkan oleh Pengasuh PPA. Nur Medina.

Santri Putri

Mubtadi’ah

Santri putri yang berada pada tingkatan mubtadi’ ini adalah para santri-santri yang mendapat perhatian dan bimbingan khusus dalam mengajinya, targetnya adalah bisa mengaji dengan baik dan fashih sesuai standar di PPA. Nur Medina. Setelah bagus dan lancar mengajinya, barulah para santri akan dikenakan kewajiban menghafal dengan syarat harus sudah menyelesaikan bacaan al-Quran 30 juz binnadhar.

Mutawassitthoh

Santri – santri yang berada pada tingkatan ini adalah santri yang dianggap telah bagus mengajinya dan sesuai standar PPA. Nur Medina dan dikenakan kewajiban menghafal sesuai target yang telah ditetapkan oleh Pengasuh PPA. Nur Medina. Mulai tingkatan ini, santri putri mempunyai target hafalan 2 juz / semester. Jika tidak sampai target, maka santri dianggap mengundurkan diri.

Mutaqoddimah

Para mutaqaddimat ini biasa disebut dengan instruktur, yaitu para santri yang dipercaya oleh pengasuh untuk menjadi instruktur santri-santri yang lain. Biasanya santri mutaqoddimah ini diamanahi untuk mengawasi beberapa santri dalam perkembangan mengajinya dan target hafalan lain yang ditetapkan oleh Pengasuh PPA. Nur Medina.


Bahan Bacaan:


1. Skripsi Abdul Basith, Model Hafalan Al-Qur’an di Pesantren Nur Medina, 2017
2. Jurnal Ustadz Kelvin

[1]. Wawancara dengan Ustadz Endang